Trump Siapkan ‘Bailout’ Rp 173 Triliun

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyiapkan dana talangan (bailout) US$ 12 miliar (sekitar Rp 173 triliun) untuk membantu industri yang bisnisnya tergerus akibat perang dagang dengan Cina, Uni Eropa, dan negara lain.

Kabar yang dilansir Reuters, kemarin, menyebutkan Trump menginisiasi program dengan nama “Depresi Besar”, yang bertujuan menanggulangi dampak sengketa perdagangan bagi perekonomian Amerika Serikat.

Menteri Pertanian Amerika Serikat, Sonny Perdue, mengatakan paket dana bantuan itu ditujukan kepada para petani saat Amerika Serikat dan Cina bernegosiasi mengenai masalah perdagangan.

baca juga : http://sa-mbec.org/genset-jakarta-dan-bali-yang-bagus-dan-berkualitas/

Berisiko Kehilangan Devisa

Tak bisa dimungkiri bahwa Amerika Serikat juga bergantung pada Cina, yang menjadi pasar potensial beberapa produknya. Di tengah naiknya tensi perang dagang, ada beberapa industri di Amerika Serikat yang berisiko kehilangan pendapatan lantaran pasarnya di Cina sangat besar. Ujung-ujungnya, Trump bisa kehilangan devisa miliaran dolar.

Amerika selama ini mengekspor kedelai serta komoditas pertanian lain yang cukup besar nilainya ke Cina. “Ini menjadi solusi jangka pendek yang akan memberi Presiden Trump waktu untuk menangani kebijakan perdagangan jangka panjang,” kata Perdue.

Program ini pun menegaskan sikap Trump untuk mati-matian bertempur dalam perang dagang, melalui skema tarif. Dana bailout ini juga dinilai bakal meredam protes publik yang tak sepakat dengan sikap proteksionistik Trump.

Dalam sebuah acara di Kota Kansas, Selasa lalu, Trump menegaskan kembali sikapnya mengenai penggunaan instrumen tarif untuk melindungi kepentingan ekonomi Amerika. Dia pun menjanjikan bahwa para petani akan menjadi penerima manfaat terbesar dari kebijakannya.

Perdue mengatakan dana bailout ini berasal dari skema khusus bernama Commodity Credit Corporation atau pembiayaan yang digalang oleh Departemen Pertanian (US Department of Agriculture). “Dana ini tidak memerlukan persetujuan kongres,” ujar Perdue.

Sepanjang 2017, Amerika mengekspor produk pertanian senilai US$ 138 miliar, seperti kedelai (US$ 21,5 miliar). Lebih dari separuhnya diserap oleh Cina, yakni senilai US$ 12,3 miliar.

Namun tak semua kalangan sepakat dengan skema ini. Bahkan beberapa anggota Partai Republik, partai pengusung Trump, mempersoalkan dana ini sebagai pemborosan yang sebenarnya tidak perlu. “Perang dagang ini jelas memangkas hajat hidup petani, dan Gedung Putih hanya menghabiskan dana besar untuk mencari popularitas,” kata senator Partai Republik dari Nebraska, Ben Sasse.

Presiden Biro Pertanian Missouri, Blake Hurst, mengatakan industri pertanian Amerika bakal terus menderita jika Trump tidak mengubah sikap proteksionistiknya. Petani jagung dan kedelai itu menilai dana bailout hanya bisa membantu petani menghadapi pinjaman yang jatuh tempo.

“Tapi sama sekali tidak mencukupi jika perang dagang berlangsung dalam jangka panjang,” kata dia. “Dana ini menjadi pembalut sementara untuk luka yang ditimbulkan sendiri,” ujar Hurst. Toh, ada juga yang mendapat berkah.

Rencana pengucuran dana bantuan untuk petani membuka peluang baru bagi pengusaha alat-alat pertanian. Mereka berharap para petani memakai dana bantuan tersebut untuk membeli peralatan baru. Saham perusahaan traktor, seperti Caterpillar Inc, AGCO, dan Deere & Co, pun dikabarkan naik lebih dari 1 persen setelah kabar bailout beredar.

“Selama ini belum pernah ada dana kompensasi bagi petani dalam skala besar,” kata ekonom University of Illinois, Scott Irwin. Dampak lain dari perang dagang Amerika-Cina adalah terbukanya pasar bagi negara berkembang.

CNBC mengabarkan negara-negara BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, dan Afrika Selatan, kini berupaya melobi Cina untuk meningkatkan impor komoditas pertanian. Proteksionisme dan peluang yang muncul dari fenomena itu bakal dibahas dalam pertemuan BRICS Summit di Johannesburg, Afrika Selatan, pekan ini.

“Cina bakal berpaling ke India, Brasil, dan Rusia untuk mendapatkan komoditas yang asalnya dipasok Amerika Serikat, seperti kedelai, gandum, dan daging,” kata akademikus dari National University of Singapore, Alex Capri. “Ini menjadi peluang baru bagi BRICS.”